Pasangan terbaik itu seperti pasangan sepatu.
1. Bentuknya tak persis sama, namun serasi.
2. Saat berjalan tak pernah kompak, tapi tujuannya sama.
3. Tak pernah ganti posisi, namun saling melengkapi.
4. Selalu sederajat, tak ada yang lebih rendah atau tinggi.
5. Bila yang satu hilang, yang lain tak memiliki arti..
Sepatu: Sejalan Sampai Tua. :)
—
(via ryanifitri)
hihihihihihihihi
(via aianamie)
Lebih baik orang yang mendapatkanmu itu orang yang lebih banyak tahu kekuranganmu daripada kelebihanmu. sebab dia membawa komitmen kuat untuk membimbing dan bertanggungjawab atasmu.” (Ustadzah dr. Maryati)
—
satu nasehat (via boecahlawu)
MANTAB! INI PASTI, AMIN
Bahwa di dunia ini, untuk menjadi yang terbaik, kompetitor sejati kita tidak pernah datang dari luar, tapi bagaimana mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan ketakutan, mengalahkan perasaan gentar, mengalahkan KEMALASAN, mengalahkan tinggi hati tidak mau belajar dan mengakui orang lain lebih baik, mengalahkan semua batasan-batasan yang mengekang diri sendiri. Sekali itu berhasil dikalahkan, hanya soal waktu kita akan jadi yang terbaik.
— Darwis Tere Liye (via annisaadejanira)
katakan untuk setiap rasa sakit, “aku belajar tentang ketegaran, agar menjadi dewasa”
Akhir-akhir ini rasanya waktu berjalan begitu cepat-setelah belasan jam berada di tempat yang sama, bertemu orang-orang yang sama, lalu pulang, tidur, bangun lagi, berpacu lagi dengan waktu, tidur lagi-rasanya aku sering tidak siap menghadapi siklus yang statis ini.
seseorang bilang bahwa ada ini adalah fase dimana hidup sudah tidak lagi hangat dan ramah - mencari teman baik semakin sulit juga waktu yang tersedia untuk diri sendiri atau orang-orang yang dicintai juga semakin menipis.
Entahlah. lagi-lagi menurutku ini masalah fase. mungkin juga efek kelelahan yang sangat atau rasa rindu yang coba ku tahan-tahan atau mungkin pergolakan batin yang membuat ingin kian berontak dan beralih aku baik-baik saja dengan semua ini.
kenapa sudah pagi lagi? kalimat yang dominan kukatakan sebelum mataharii terbit dan menghalauku lari terbirit-birit. satu hal saja ada yang mengganggu akan membuatku frustasi sesaat.
istikahnya, jika disenggol saja dalam keadaan ini, lantas berubah menjadi air mata mungkin.
sekarang aku mengerti mengapa kaum urban cenderung skeptis, egois, dan eksklusif. dan aku harus belajar bahwa sikap itu tak mengapa. sesekali. toh orang dewasa harus tahu apa yang membuatnya bahagia.
akhir-akhir ini waktu rasanya berjalan sangat cepat. dan aku merasa lebih tua dari usiaku. lalu mengeluh begini begitu yang tak perlu, sedih sendiri selalu, seperti akan kehilangan sesuatu.
Aku sungguh harus memperbaiki sujudku, syukurku, sabarku. Aku kangen Tuhanku dengan setangis-tangisnya kerinduan. Mungkin itu.
Ya memang itu. itu yang hilang :”(
lama-lama enek liat timeline
Lama-lama enek liat timeline yang isinya jodoh, pengen suami begini, pengen istri begitu, nulisin kriteria pria/wanita idaman, cinta, cinta, cinta, de-el-el lah. yaa kalau sekali-sekali silahkan lah ya, kalau hampir tiap hari? malesin deh. -_- kayak gak ada yang lain aja yang dipikirkan selain ngebayangin si jodoh yang masih entah siapa oknumnya. do the best aja kali, gausah kebanyakan ngomong, nyatanya selama ini yang enteng jodoh ya yang talk less do more (berdasarkan pengamatan doang sih, subjektif).
Satu hal, jatuh cinta itu fitrah, jatuh cinta itu indah, tapi jangan terlalu sering diumbar dan jangan terlalu eksplisit dalam mengekspresikannya, kesan yang timbul malah tidak seindah rasa yang sebenarnya.


